Thursday, 24 September 2015

MAKALH SINGKAT Museum Sangiran (Makalah Museum Sangiran)

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perjalanan kisah perkembangan manusia di dunia tidak dapat kita lepas dari keebradaan bentangan luas perbukitan tandus yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Lahan itu dikenl dengan situs Sangiran. Sangiran merupakan kompleks situs manusia purba dari kala Pleistosen yang paling lengkap dan paling penting di Indonesia, bahkan di Asia. Lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan manusia dunia, yang memberikan oetunjuk tentang keberadeaan manusia sejak 150.00 tahun yang lalu.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian puncaknya. Kubah raksasa itu diwarnai dengan perbukitan yang bergelombang. Berdasarkan materi tanahnya, Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-vulkanik, tanahnya tidak subur dan gersang pada musim kemarau.


B.     Letak Geografi Museum Purbakala Sangiran

          Letak Geografi  Museum Purbakala Sangiran terletak di Ds. Krikilan Kec. Kalijambe Kab. Sragen. Situs Sangiran memiliki luas delapan kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh kilometer arah timur-barat.


C.     Rumusan Masalah
    
1.      Bagaimana cara hidup makhluk hidup pada zaman praaksara?
2.      Mengapa fosil - fosil banyak ditemukan di daerah Sangiran?
                                            
  
D.    Tujuan Observasi
1.      Untuk mengetahui Sejarah perkembangan Manusia, Hewan purba serta kebudayaan, cara hidup pada zaman 150.000 tahun yang lalu.
2.      Mengidentifikasi fosil – fosil makhluk hidup
3.      Mengetahui letak geografis Museum Sangiran


E.     Manfaat Observasi
1.      Menambah wawasan tentang sejarah perkembangan makhluk hidup
2.      Mengetahui bentuk bentuk fosil pada masa praaksara
3.      Mengetahui cara hidup makhluk hidup masa praaksara


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Faleontologi
       

B.     Sejarah Perkembangan Makhluk Hidup

C.     Sejarah Penemuan Fosil – fosil

    
BAB III
KAJIAN OBSERVASI BENDA – BENDA PURBAKALA di
MUSEUM SANGIRAN


A.    Koleksi benda Purbakala di  Sangiran
B.     Perawatan / pemeliharaan Benda – Benda di Museum Purbakala Sangiran
1.      Secara Alami
2.      Secara Kimia
3.      Secara Fisik
4.      Secara Biologi

C.     Karakteristik Benda Purbakala di Museum Sangiran
1.      Secara Morfologi / Bentuk Morfologi
2.      Secara Anatomi
3.      Secara Fisiologi

D.    Berbagai Faktor yang Berkaitan dengan benda Purbakala di Museum Sangiran
1.      Geografis
2.      Masa / Waktu
3.      Musim / Iklim
4.      Penaranan manusia / teknologi



                       BAB IV
   PEMBAHASAN

    
Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Pasal 1(1) PP no. 19 Tahun 1995)(Hamzuri dkk, 1997). Museum bukan sekedar tempat sumber informasi, masih banyak yang bisa didapatkan jika kita menelaah lebih jauh. Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Museum Sangiran merupakan destinasi pariwisata yang menyimpan koleksi ribuan temuan fosil antara lain fosil manusia, hewan bertulangbelakang, binatang air, batuan, tumbuhan laut dan alat-alat batu. Secara stratigrafi situs Sangiran merupakan situs manusia purba terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa putus sejak dua juta tahun yang lalu menurut riwayat penelitian hingga sekitar 200.000 tahun yang lalu.

     Situs Sangiran memiliki potensi penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Secara arkeologis arti penting situs Sangiran didapat dari penemuan alat-alat batu di desa Ngebung yang dikenal dengan istilah “Sangiran Flakes Industry”, berupa alat-alat serpih dari batu kalsedon dan jaspis. Peralatan lain selain serpih yang ditemukan mulai dari yang berciri paleolitik hingga neolitik. Potensi Sangiran tersebut menyebabkan situs ini dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia dan digunakan sebagai tolak ukur untuk mengkaji proses-proses evolusi secara umum. Tujuan dari ilmu arkeologi adalah berusaha merekonstruksi sejarah kebudayaan masa lalu, cara-cara hidup maupun proses-proses budaya yang pernah terjadi. Melalui kajian arkeologi, kehidupan masa lampau dapat disajikan ke permukaan. Penelitian terhadap fosil dan artefak sekaligus membawa peneliti pada cara hidup mahkluk purba itu. Di dalam arkeologi publik, seorang arkeolog dituntut untuk membuat sebuah publikasi dan menyebarluaskan hasil-hasil penelitiannya, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan.
Sebagai ilmu yang berkompeten untuk mengungkap budaya maupun kehidupan purba, Sangiran memberikan bidang yang luas guna pengumpulan data tentang budaya dan evolusi manusia. Penelitian berkelanjutan yang telah dilaksanakan untuk mengungkap kandungan budaya maupun sebaran situs, menjadi bukti implementasi arkeologi. Dari Sangiran kita bisa memperoleh informasi tentang sejarah kehidupan manusia purba dengan kehidupan dan lingkungannya.
     Banyaknya fosil yang terkumpul menunjukkan Museum Sangiran sebagai situs prasejarah yang memiliki peran penting dalam memahami proses evolusi manusia. Alat-alat batu yang ditemukan di wilayah Sangiran merupakan perwujudan adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Mereka mulai menciptakan peralatan dari batu meski dalam taraf teknologi sederhana. Melalui Sangiran digali informasi mengenai habitat, populasi, binatang yang hidup pada masa itu, dan proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.

     Evolusi membicarakan tentang asal-usul hidup dan kehidupan. Evolusi mencoba merekonstruksi bentuk mahkluk hidup, sejak jaman purba sampai sekarang, beserta aktivitas dan segala hal yang mendukung aktivitas hidupnya. Sifat tidak mudah puas akan persoalan hidupnya memaksa manusia memaksimalkan penggunaan otaknya untuk mencari jawaban. Dari perkembangan tingkat sederhana hingga hal yang semakin kompleks. Dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar hingga kebutuhan sekunder bahkan tersier. Ilmu Arkeologi (atau ilmu sejarah kebudayaan purbakala) pada mulanya meneliti sejarah dari kebudayaan-kebudayaan kuno dalam zaman purba (Koentjaraningrat,1990).
     Perkembangan volume otak manusia diikuti pula dengan kemampuannya mengolah apa yang alam berikan. Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, dimulai dengan kebutuhan dasar, memaksa manusia mengembangkan kemampuannya untuk pemenuhan bertahan hidup. A Wallace mengemukakan mengenai proses seleksi alam, mahkluk yang bisa bertahan yang akan eksis.
     Evolusi pada manusia mempunyai nilai yang berbeda dengan evolusi tingkat hewan. Pada tingkat hewan, evolusi itu dirangsang oleh kondisi material alam sekitarnya berupa makanan, suhu, tekanan udara dan lain-lain, yang secara mekanis mendorong pertumbuhan atau melenyapkan sel-sel tertentu dari generasi ke generasi. Suatu populasi yang tidak mampu mengadakan perubahan seirama dengan alamnya, sehingga dari generasi-ke generasi mereka punah. Evolusi pada manusia bukan lagi tingkat jasmaniah, namun ia dikontrol oleh kondisi spiritual (metafisik) alam sekitarnya, yang menumbuhkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dengan kebudayaan, manusia mempunyai daya dan berusaha untuk merobah alamut.
     Tugas arkeolog adalah menemukan kembali makna budaya sumber daya arkeologi dan menempatkannya dalam konteks sistem sosial masyarakat sekarang. Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda–benda ini adalah barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi. Pembuatan peralatan membutuhkan ingatan, perencanaan dan pemecahan masalah yang abstrak. Hal ini menandai awal dimulainya fungsi kebudayaan untuk membantu kita beradaptasi dengan lingkungan, suatu kemampuan yang khas manusia. Evolusi terjadi karena sifat adaptif yang dimiliki manusia. Manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan pada waktu mereka mengembangkan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan sumberdaya yang mereka temukan dan juga dalam batas-batas lingkungan tempat mereka hidup. Proses adaptasi menghasilkan keseimbangan yang dinamis antara kebutuhan penduduk dan potensi lingkungannya. Adaptasi untuk mempertahankan hidup membuat manusia bertindak untuk memanfaatkan apa yang telah disediakan alam. Evolusi sebagai upaya adaptasi lingkungan seperti contoh teknik yang digunakan mereka untuk mendapatkan hewan buruan, misalnya dengan membuat jebakan atau menggiring binatang-binatang tersebut ke arah jurang yang terjal.
Tidak bisa dihindari bahwa manusia harus selalu bisa adaptif karena alam menyeleksi mahkluk yang bisa bertahan. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Adaptasi bisa berupa internal dan eksternal. Adaptasi internal melalui mutasi, perubahan-perubahan dalam fungsi organ, dan pergantian sel-sel hidup. Proses internalisasi biologis yang membentuk sel organisma berjalan secara berkelanjutan. Sedangkan, adaptasi eksternal adalah kehidupan bermasyarakat harus disesuaikan dengan lingkungan alam.
Dalam rangka melanjutkan hidupnya, manusia diharuskan berhubungan dengan lingkungannya. Hubungan manusia dan lingkungan lebih banyak ditekankan pada tema adaptasi. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Pola hubungan antara fenomena sosial budaya dengan lingkungan alamnya dijembatani oleh unsur tengah, yaitu suatu kumpulan tujuan dan nilai-nilai spesifik, suatu kumpulan pengetahuan dan keyakinan, atau adanya suatu pola kebudayaan.
Pada manusia, tingkah-laku tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang manusia lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
Pola hubungan manusia dan lingkungannya tidak selalu bertujuan menjaga homeostatis (keseimbangan). Walaupun adaptasi tertentu kelihatannya baik untuk untuk jangka waktu pendek dan bijaksana di mata masyarakat yang bersangkutan, tetapi dalam jangka waktu yang panjang justru terlihat merugikan keseimbangan lingkungan, kesehatan manusia, bahkan merugikan masa depan satuan sosio kultural tersebut. Antropologi melihatnya sebagai suatu perangkat proses psikologis, juga suatu perangkat respon perilaku baru yang diadaptasikan pada situasi-situasi dan waktu-waktu tertentu. Pengendalian kebutuhan-kebutuhan individu dipandang tidak relevan bagi pengendalian sumber daya alam oleh kelompok atau mayarakat, karena dalam mengendalikan penggunaan sumber alam, suatu kelompok atau masyaratat bisa saja menyalahgunakan sumber alam lainnya.
Manusia adalah mahkluk yang mempunyai kemampuan beradaptasi paling tinggi. Teori evolusi mengajarkan bahwa manusia sebagai homo sapiens telah mengalami perubahan dan perkembangan, baik dalam bentuk tubuh, struktur anatomi dan kemampuan otak untuk berpikir. Dalam jangka waktu yang lama, interaksi manusia dengan alam sekitarnya menghasilkan daya adaptasi yang tinggi dalam menyelenggarakan regenerasi yang berkembang sesuai daya dukung alam. Dengan kapasitas otak yang dimilikinya, manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk menemukan, membuat serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalamannya, seperti cara mengatasi hambatan-hambatan alam dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Adaptasi terhadap lingkungan baru menciptakan dinamika kebudayaan.
Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Aliran neo fungsionalisme, berusaha menunjukkan bahwa gejala-gejala sosio kultural mempunyai fungsi adaptif terhadap lingkungan, atau setidak-tidaknya mempunyai fungsi dimana faktor-faktor lingkungan dimanipulasi dalam pola mata pencaharian masyarakat bersangkutan. Pengikut pendekatan ini memandang organisasi sosial dan kebudayaan populasi spesifik sebagai adaptasi fungsional yang memungkinkan populasi-populasi itu mengeksploitasi lingkungan mereka tanpa melampaui daya dukung lingkungan tersebut. Satuan yang digunakan di sini ialah suatu populasi dan bukan satuan sosial (social order).
Situs Sangiran merupakan kekayaan dunia yang sangat penting dan harus dilestarikan serta dikembangkan. Sebagai sebuah lembaga yang menjadi tempat kunjungan banyak orang, museum menjadi titik sentral jembatan atas out put ilmu, dalam hal ini arkeologi, yang bisa dirasakan langsung oleh mayarakat. Penemuan fosil yang begitu banyak menjadikan Sangiran sebagai sebuah kawasan manusia purba yang selalu menjadi penelitian hingga sekarang. Secara umum, hasil-hasil penelitian telah dapat menggambarkan kehidupan manusia purba, budaya, dan lingkungan kala Plestosen.
Fosil merupakan petunjuk adanya evolusi, sebagai catatan sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui jejak-jejak atau bekas kehidupan makhluk masa lampau. Evolusi manusia dan budaya berjalan secara pararel. Antara keduanya saling mempengaruhi. Kebudayaan mengalami proses perubahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya secara evolutif. Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara biologis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakkan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkah lakunya digerakkan oleh insting.
Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, ia mengalami perubahan secara evolusioner. Dalam Antropologi Kognitif, yang dikembangkan oleh Ward H. Goodenough (1950-an), membawa definisi budaya dari yang fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Konsep arkeologi publik dalam batasan luas selalu akan menempatkan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan warisan budaya. Masyarakat pada hakekatnya, adalah pemegang penuh hak atas pemanfaatan sumber daya arkeologi. Merekalah pada dasarnya yang akan memberikan makna sumber daya arkeologi tersebut, baik untuk identitas, media hiburan atau hobi, sarana rekreasi, dan kepariwisataan. Sumber daya arkeologi dapat pula dimaknai secara berbeda sesuai dengan orientasinya, misalnya untuk media pendidikan atau ilmu pengetahuan, bahkan sebagai peneguhan jatidiri bangsa.
Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Kebudayaan dengan sejumlah normanya itu merupakan suatu akumulasi dari hasil pengamatan, hasil belajar dari pendukung kebudayaan tersebut terhadap lingkungannya selama beratus-ratus tahun dan dijalankan hingga sekarang karena terbukti telah dapat mempertahankan kehidupan masyarakat tersebut. Kecenderungan warisan budaya yang seringkali dikatakan sebagai media yang memiliki fungsi dalam menjaga proses pertumbuhan kebudayaan bangsa, ternyata mengandung nilai-nilai yang pewarisannya dapat terjadi secara berbeda. Arkeologi publik sebagai teori atau strategi tentang bagaimana cara supaya warisan budaya dapat dimanfaatkannya sekaligus dipahami maknanya oleh masyarakat.











BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
     Dari hasil pengamatan kelompok kami, dapat disimpulkan bahwa kehidupan pada masa praaksara memiliki sejarah yang sangat berarti bagi kehidupan modern saat ini. Karena zaman praaksara membuat kita mengerti dan paham asal usul pada zaman praaksara.
     Perbedaan-perbedaan jenis tanah, bentuk fosil serta jenis fosil yang terdapat pada empat lapisan tanah (Kalibeng, Pucangan, Kabuh, Notopuro) menunjukkan bahwa di Sangiran telah terjadi evolusi. Evolusi adalah konsep umum yang berlaku bagi setiap benda di alam semesta. Evolusi merupakan kejadian sebab akibat yang sangat panjang dan kolosal. Evolusi tidak semata-mata terjadinya perubahan sederhana atau perubahan adaptif. Begitu kompleksnya bidang yang bisa dijamah, membuat evolusi sebagai bidang keilmuan yang diharapkan mampu memberi solusi atas permasalahan tentang asal mula sesuatu, beserta perubahannya baik yang sudah punah maupun yang tetap eksis, dan kajian itu dipakai sebagai masukan untuk tindakan masa depan. Ilmu dalam menyoroti manusia tidak lepas dari gagasan evolusi (khususnya sains modern).


B.     Saran
Saran yang bisa kami sampaikan adalah “Jangan pernah melupakan sejarah asal usul kita berasal”. 













No comments:

Post a Comment